Menghubungkan ke Database...
Menarik seluruh rekap siswa dan data bulanan.
Gagal Akses Data
{{ error }}
Rekapitulasi Siswa
| Nama Siswa | Kelas | Kehadiran | Sakit | Izin | Alpa | Status |
|---|---|---|---|---|---|---|
| {{ s.nama }} | {{ s.kelas }} |
{{ s.he === 0 ? '-' : s.percent + '%' }}
|
{{ s.sakit || '-' }} | {{ s.izin || '-' }} | {{ s.alpa || '-' }} | {{ s.risk.status }} |
| Tidak ada data siswa yang sesuai pencarian | ||||||
Total Siswa
{{ students.length }}
Total Sakit
{{ totalSakitAll }} Hari
Total Izin
{{ totalIzinAll }} Hari
Total Alpa
{{ totalAlpaAll }} Hari
Performa Kehadiran per Kelas
| Bulan | Kls | S | I | A | |
|---|---|---|---|---|---|
| {{ index + 1 }}. | {{ item.bulan }} | {{ item.kelas }} | {{ item.s }} | {{ item.i }} | {{ item.a }} |
| Tidak ada data ditemukan sesuai filter. | |||||
Sistem Deteksi Peringatan Dini (EWS)
Sistem EWS memprioritaskan indikator ketidakhadiran tanpa keterangan (Alpa) dan persentase kehadiran secara holistik. Absensi karena Sakit dan Izin diperlakukan sebagai pengecualian sah (tidak memicu sanksi indisipliner), namun tetap terpantau dalam kalkulasi kehadiran.
Indikator: Alpa 1-2 Hari
Tindakan: Konseling ringan oleh Wali Kelas.
Indikator: Alpa 3-5 Hari
Tindakan: Panggilan orang tua & pendampingan Guru BK.
Indikator: Alpa ≥ 6 Hari atau Kehadiran < 90%
Tindakan: Penjadwalan Home Visit (Kunjungan Rumah).
Kondisi Sangat Aman
Belum ada satupun siswa yang terdeteksi berada di level Waspada, Rentan, maupun Kritis.
{{ s.nama }}
Kehadiran
{{ s.percent }}%
Alpa
{{ s.alpa }} hr
Sakit/Izin
{{ s.sakit + s.izin }} hr
Alasan: {{ s.risk.note }}
Panduan Akademik & Landasan Teori EWS
Kerangka Ilmiah Pencegahan Putus Sekolah dan Penanganan Anak Tidak Sekolah (ATS)
1. Teori Keterikatan Sekolah (School Engagement Theory)
Berdasarkan riset Fredricks, Blumenfeld, & Paris (2004), putus sekolah bukanlah fenomena mendadak, melainkan akumulasi proses disengagement (keterasingan/penurunan keterikatan) yang terbagi menjadi tiga dimensi: Behavioral Engagement (keterlibatan perilaku/kehadiran), Emotional Engagement (rasa memiliki sekolah), dan Cognitive Engagement (investasi dalam pembelajaran). Absensi berulang tanpa keterangan adalah indikator perilaku paling awal yang mudah terdeteksi.
2. Model Ekologis Bronfenbrenner (Ecological Systems Theory)
Urie Bronfenbrenner menekankan bahwa perkembangan anak dipengaruhi oleh interaksi antara mikrosistem (keluarga, sekolah, teman sebaya). Ketidakhadiran kronis (chronic absenteeism) sering kali menjadi sinyal adanya disfungsi atau hambatan pada ranah keluarga atau psikososial anak. Oleh karena itu, EWS dirancang untuk menjembatani pihak sekolah dan orang tua melalui pendekatan intervensi dini.
3. Model Kaskade Putus Sekolah (Dropout Cascade Model - Rumberger, 2011)
Rumberger menjelaskan bahwa risiko putus sekolah mengikuti pola kaskade (bertingkat). Faktor pemicu awal seperti ketidakhadiran tanpa izin (Alpa) yang dibiarkan akan berujung pada penurunan nilai akademik, tinggal kelas, hingga akhirnya putus sekolah permanen. Sistem EWS hadir untuk memotong mata rantai kaskade ini pada tahap awal melalui tiga level intervensi terstruktur.
Risiko Ringan
- Indikator: Akumulasi Alpa 1 - 2 Hari.
- Karakteristik: Mulai menunjukkan gejala kebosanan atau penurunan motivasi belajar jangka pendek.
- Landasan Penanganan: Pendekatan persuasif preventif agar tidak berlanjut ke pola kronis.
Tindakan: Konseling Ringan oleh Wali Kelas
Risiko Sedang
- Indikator: Akumulasi Alpa 3 - 5 Hari.
- Karakteristik: Menunjukkan pola absensi berulang tanpa alasan yang valid secara administratif.
- Landasan Penanganan: Keterlibatan orang tua mutlak diperlukan untuk mengidentifikasi kendala di luar sekolah.
Tindakan: Panggilan Orang Tua & Pendampingan BK
Risiko Tinggi / Darurat
- Indikator: Alpa ≥ 6 Hari atau Kehadiran < 90%.
- Karakteristik: Berpotensi kuat mengalami putus sekolah jika tidak segera ditangani secara komprehensif.
- Landasan Penanganan: Intervensi langsung ke lingkungan domisili siswa.
Tindakan: Penjadwalan Home Visit Terpadu
Kebijakan Pengecualian Sakit dan Izin
Sesuai regulasi administrasi pendidikan, ketidakhadiran karena Sakit (dengan surat keterangan dokter/ortu) dan Izin yang sah diperlakukan sebagai pengecualian. Hal ini memastikan siswa yang mengalami kendala kesehatan tidak serta-merta mendapat sanksi indisipliner, melainkan tetap mendapatkan dukungan pemulihan akademik, sementara fokus penegakan disiplin EWS diarahkan pada pencegahan ketidakhadiran tanpa keterangan (Alpa).